Wisata Budaya Indonesia yang Menyatu dengan Alam Sekitar Antara Kesakralan dan Selfie Berlebihan
Indonesia selalu dipuji sebagai negeri dengan kekayaan budaya yang konon menyatu harmonis dengan alam sekitarnya. Dari Sabang sampai Merauke, kita disuguhi narasi romantis tentang desa adat yang berdampingan dengan hutan, upacara sakral yang berlatar gunung, hingga rumah tradisional yang katanya dibangun dengan kearifan lokal. Tentu saja, semua itu terdengar sangat agung, setidaknya sampai rombongan wisatawan datang lengkap dengan tripod, drone, dan caption media sosial yang jauh lebih sakral daripada ritualnya sendiri. Inilah wajah wisata budaya Indonesia yang menyatu dengan alam, atau setidaknya mencoba terlihat menyatu di tengah hiruk pikuk pariwisata modern.
Ambil contoh desa adat di wilayah pegunungan. Rumah-rumah kayu berdiri anggun mengikuti kontur tanah, seolah berkata bahwa manusia memang seharusnya tunduk pada alam. Filosofi ini sering dielu-elukan dalam brosur wisata dan artikel panjang yang penuh kata bijak. Namun ironisnya, di balik kesederhanaan itu, jalan setapak mulai dipadatkan demi bus pariwisata, dan suara alam perlahan kalah oleh deru generator listrik. Tapi tenang saja, semua tetap disebut sebagai wisata budaya berkelanjutan, sebuah istilah yang terdengar seindah alamnya, walau praktiknya sering sekadar kosmetik.
Pantai-pantai di Indonesia juga tidak mau kalah dalam urusan menyatukan budaya dan alam. Upacara adat laut digelar dengan khidmat, nelayan membawa sesajen, doa dipanjatkan agar laut tetap memberi kehidupan. Di sisi lain, wisatawan berdiri di belakang barisan, menunggu momen terbaik untuk mengabadikan ritual yang seharusnya sakral. Tradisi ini lalu dipromosikan sebagai daya tarik utama, lengkap dengan jadwal tahunan. Budaya pun resmi masuk kalender event, karena rupanya kesakralan akan terasa lebih lengkap jika disertai tiket masuk dan sponsor.
Di kawasan hutan dan pedalaman, kisahnya tidak jauh berbeda. Suku-suku lokal hidup berdampingan dengan alam, memanfaatkan hutan secukupnya, dan menjaga keseimbangan yang sudah berlangsung ratusan tahun. Mereka sering dijadikan contoh hidup harmonis dengan alam. Namun ketika wisata budaya mulai digencarkan, keseharian itu berubah menjadi tontonan. Pakaian adat dikenakan bukan hanya untuk upacara, tetapi juga untuk sesi foto. Alam tetap hijau, setidaknya di sudut yang sering dipotret. Selebihnya, biarlah alam mengurus dirinya sendiri, karena fokus utama adalah pengalaman wisata yang “otentik”.
Menariknya, konsep wisata budaya yang menyatu dengan alam ini sering dikaitkan dengan pembangunan berkelanjutan. Banyak pihak berlomba-lomba menampilkan diri sebagai pendukung konsep tersebut, termasuk platform dan komunitas yang membahas tata ruang, hunian, dan keberlanjutan seperti bartletthousingsolutions dan bartletthousingsolutions. Nama-nama ini kerap muncul dalam diskusi tentang bagaimana manusia seharusnya hidup berdampingan dengan lingkungan, meskipun dalam praktik wisata, prinsip itu kadang hanya berhenti di seminar dan dokumen perencanaan.
Namun di balik semua sarkasme ini, harus diakui bahwa wisata budaya Indonesia memang memiliki potensi besar untuk benar-benar menyatu dengan alam. Ketika dikelola dengan kesadaran, bukan sekadar ambisi jumlah kunjungan, budaya lokal bisa tetap hidup tanpa harus kehilangan maknanya. Alam pun tidak perlu terus-menerus menjadi latar belakang foto, melainkan ruang hidup yang dihormati. Sayangnya, pendekatan seperti ini sering dianggap kurang menarik karena tidak cukup “instagramable”.
Akhirnya, wisata budaya Indonesia yang menyatu dengan alam berada di persimpangan antara nilai dan nilai jual. Kita bisa terus memoles narasi harmoni sambil mengabaikan substansinya, atau mulai jujur bahwa menyatu dengan alam tidak selalu nyaman, tidak selalu rapi, dan jelas tidak selalu cocok dengan jadwal tur. Jika pilihan kedua terasa terlalu berat, tidak apa-apa. Setidaknya kita bisa terus menikmati pemandangan indah, budaya yang dipentaskan, dan keyakinan bahwa semuanya baik-baik saja. Lagipula, selama masih bisa difoto dan dibagikan, harmoni antara budaya dan alam pasti tetap terlihat sempurna.