Home » Bahasa Daerah

Category Archives: Bahasa Daerah

Bahasa Daerah yang Populer di Indonesia

Bahasa Daerah yang Populer di Indonesia

Bahasa Daerah yang Populer di Indonesia – Selain diberikan predikat sebagai negara dengan kepulauan terbanyak, Indonesia sendiri juga menjadi salah satu negara yang memiliki bahasa daerah yang sangat banyak pula. Berdasarkan Laboraturium Kebinekaan Bahasa dan Sastra ini sendiri memiliki jumlah bahasa daerah yang ada di Indonesia sebanyak 718 ragam bahasa. Dalam perkembangannya ini, sejumlah bahasa tersebut tidak semuanya sangat familiar di telinga masyarakat Indonesia. Dari ratusan bahasa tersebut, terdapat beberapa bahasa populer yang cukup sering didengarkan oleh masyarakat yang ada di Indonesia ini.

Bahasa Daerah yang Populer di Indonesia

Bahasa Jawa

Bahasa Jawa sendiri banyak digunakan oleh masyarakat Judi Slot Online yang berada di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian derah di Jawa Barat. Sedangkan untuk beberapa negara di luar negeri yang biasa menggunakan Bahasa Indonesia yaitu Australia, Singapura, Malaysia, dan Kaledonia Barat. Bahasa Jawa ini sendiri memiliki tiga tingkatan, yaitu Ngoko, Madya, dan Krama. Tingkatan ini sendiri digunakan untuk orang yang berbeda. Untuk tingkatan Ngoko ini sendiri digunakan untuk orang yang lebih tua dari segi umur dan pada orang yang lebih muda ataupun orang yang sudah saling akrab. Krama ini sendiri digunakan untuk orang yang lebih muda kepada yang lebih tua.

Bahasa Sunda

Bahasa Sunda ini sendiri dituturkan oleh masyarakat yang berada di Pulau Jawa bagian Barat, terutama di Jawa Barat. Selain itu, di Jawa Barat sendiri, bahasa ini juga memiliki sebaran di beberapa wilayah Indonesia lainnya, misalnya saja di Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Lampung, Bengkulu, dan Sulawesi Utara. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri ini, bahasa Sunda di Provinsi Jawa Barat dengan bahasa Sunda yang sudah tersebar di Provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Lampung, Bengkulu, serta Sulawesi Tenggara. Seluruhnya memiliki persentase perbedaan berkisar 51-80 persen sehingga dikatakan beda dialek.

Bahasa Madura

Bahasa Madura sendiri merupakan bahasa yang berasal dari Pulau Madura. Bahasa ini sendiri tersebar di Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Selain itu juga, bahasa Madura mulai tersebar di Kabupaten Malang, Situbondo, Bondowoso, Pasuruan, Jember. Kantong-kantong bahasa Madura ini sendiri yang lain juga ditemukan di pulau-pulau di luar Pulau Jawa tersebut. Menukil dari Bahasa Madura ini sendiri, di Jawa Timur terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Pulau Madura dan dialek Pulau Bawean dengan persentase yang perbedaan sebesar 53 persen. Daerah sebaran geografis ini sendiri penutur dialek Pulau Madura tersebar di Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Malang, Jember, Situbondo, Bondowoso, Pasuruan, dan Banyuwangi.

Bahasa Bugis

Bahasa Bugis sendiri banyak digunakan di berbagai daerah di Indonesia seperti Riau, Kalimantan, Jambi, Lampung, DKI Jakarta, hingga Nusa Tenggara. Sedangkan untuk di Sulawesi Selatan sendiri, meski memiliki persamaan menggunakan Bahasa Bugis namun masyarakat di sana menggunakan Bahasa Bugis De. Sedangkan untuk di daerah DKI Jakarta sendiri, Bahasa Bugis digunakan di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.

Sejarah Terbentuknya Bahasa Sunda

Sejarah Terbentuknya Bahasa Sunda – Bahasa Sunda merupakan bahasa yang diciptakan dan digunakan oleh orang Sunda dalam komunikasi kehidupan mereka. Tidak diketahui kapan bahasa ini lahir, tetapi dari bukti tertulis yang merupakan keterangan tertua, berbentuk prasasti berasal dari abad ke-14.

Sejarah Terbentuknya Bahasa Sunda

Prasasti itu di temukan di Kawali Ciamis, dan ditulis pada batu alam dengan menggunakan aksara dan Bahasa Sunda (kuno). Diperkirakan prasasti ini ada beberapa buah dan dibuat pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana (1397-1475).

Salah satu teks prasasti tersebut berbunyi “Nihan tapak walar nu siya mulia, tapak inya Prabu Raja Wastu mangadeg di Kuta Kawali, nu mahayuna kadatuan Surawisésa, nu marigi sakuliling dayeuh, nu najur sakala désa. Ayama nu pandeuri pakena gawé rahayu pakeun heubeul jaya dina buana” (inilah peninggalan mulia, sungguh peninggalan Prabu Raja Wastu yang bertakhta di Kota Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan sekeliling ibukota, yang menyejahterakan seluruh negeri. Semoga ada yang datang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia).

Namun pengaruh Bahasa Jawa dalam kehidupan berbahasa masyarakat Sunda sangat jelas tampak sejak akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19 sebagai dampak pengaruh Mataram memasuki wilayah ini. Pada masa itu fungsi Bahasa Sunda sebagai bahasa tulisan di kalangan kaum elit terdesak oleh Bahasa Jawa, karena Bahasa Jawa dijadikan bahasa resmi dilingkungan pemerintahan. Selain itu tingkatan bahasa atau Undak Usuk Basa dan kosa kata Jawa masuk pula kedalam Bahasa Sunda mengikuti pola Bahasa Jawa yang disebut Unggah Ungguh Basa.

Dengan penggunaan penggunaan tingkatan bahasa terjadilah stratifikasi social secara nyata. Walaupun begitu Bahasa Sunda tetap digunakan sebagai bahasa lisan, bahasa percakapan sehari-hari masyarakat Sunda. Bahkan di kalangan masyarakat kecil terutama masyarakat pedesaan, fungsi bahasa tulisan dan bahasa Sunda masih tetap keberadaannya, terutama untuk menuliskan karya slot online gacor dengan menggunakan Aksara Pegon.

Setelah itu masyarakat Sunda mengenal, lalu menganut Agama Islam, lalu menegakkan kekuasaan Agama Islam di Cirebon dan Banten sejak akhir abad ke-16. Pada masa itu muncul karya Carita Parahiyangan. Di dalam naskah itu terdapat 4 kata yang berasal dari Bahasa Arab yaitu duniya, niyat, selam (Islam), dan tinja (istinja). Hal ini merupakan bukti tertua masuknya kosakata Bahasa Arab ke dalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda. Seiring dengan masuknya Agama Islam kedalam hati dan segala aspek kehidupan masyarakat Sunda, kosa kata Bahasa Arab kian banyak masuk kedalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda dan selanjutnya tidak dirasakan lagi sebagai kosakata pinjaman.